Home » CULINARY » Fakta Sewaktu Imlek Tanpa Sup Sirip Hiu

Fakta Sewaktu Imlek Tanpa Sup Sirip Hiu

Bacritkita.com , Jakarta Seperti yang kita ketahui, sup sirip hitu merupakan salah satu makanan yang wajib ada di perayaan Tahun Baru Tionghoa atau Imlek. Berawal dari kepercayaan yang dipegang teguh sejak zaman nenek moyang, bahwa sup sirip hiu merupakan simbol dari kekayaan dan kemakmuran. Akan tetapi faktas dilapangan menunjukkan hal yang sebaliknya, bahkan mengenaskan.

Menurut data dari WWF Indonesia, setiap tahun ada 100juta ikan hiu yang diburu dan mati karena diambil siripnya. Indonesia sendiri ternyata termasuk dalam daftar 20 negara dengan tingkat konsumsi ikan hiu tertinggi di dunia.

Kemudian WWF Indonesia membuat acara bertajuk Diskusi Terbuka Menghilang Hiu dari Menu dengan kampanye #ImlekBebasHiu di Soehana Hall, The Energy Building, Rabu(25/1/20174). Pada acara ini ditekankan bahwa ikan hiu bukanlah hewan yang harus dijadikan makanan karena beberapa alasan.

Sebagai predator tertinggi di laut, ikan hiu miliki tingkat racun yang tinggi, sehingga tidak layak untuk menjadi konsumsi. Selain itu mengingat caranya diproduksi dan layaknya permintaan, sup sirip ikan hiu dapat menjadi salah satu alasan terbesar dari kepunahan ikan hiu di dunia.

Pada daerah Jakarta sendiri ternyata masih banyak restoran disebuah hotel ternama yang menyediakan Sup Sirip Hiu dengan harga yang mencengangkan. Ya , sup sirip ikan hitu bisa ditemukan dari harga ratusan hingga puluhan juta rupiah.

“Akan tetapi masih belum ada peraturan yang mengharuskan kita untuk berhenti menjual dari pemerintah, maka selama masih ada konsumen yang meminta, maka kita tetap akan menyajikannya. Selama ini baru ada himbauan,”papar salah satu pegawai dari restoran yang ikut hadir di acara Diskusi Terbuka.

Tetapi, beberapa hotel ternama lain di Jakarta, seperti Grand Melia, Santia dan lainnya mengaku sudah tidak ada lagi menyediakan menu makanan yang berbahan ikan hiu sejak mendapatkan himbauan dari pemerintah.

“Sebenarnya Sharing-La sudah lama berhenti menjual makanan berbahan hiu sejak 2010 dan kami juga tidak menggantinya dengan menu lainnya, karena berlanjutan dengan makhluk hidup dan lingkungan hidup menjadi fokus dari hotel kami,” papar perwakilan dari hotel Sharing-La.

Tak hanya dihotel, namun Bandar Jakarta pun berhenti menjual sirip ikan hiu semenjak mendapatkan himbauan dari Mentri Kelautan.

”Ya, Bandar Jakarta sekarang juga sudah berhenti menjual sup sirip ikan hiu sejak owner kami mendapatkan himbauan langsung dari Mentri Kelautan. Kami ada 5 owner dan salah satunya merupakan pecinta lingkungan hidu. Sekarang kami mengganti menu sup sirip ikan hiu dengan lobster Alaska, namun karena sekarang lobster Alaska juga sudah mulai langka, kami hanya menyajikannya 2 kali dalam 1 minggu, “jelas Juli, pegawai Bandar Jakarta.

Perwakilan Pemprov DKI Jakarta juga tidak kalah ambil suara menjelaskan mengapa sampai saat ini masih saja belum ada aturan yang bisa menjelaskan mengenai perlindungan ikan hiu dan larangn untuk menjadikannya sebagai bahan makan di Indonesia.

“Sebenarnya sudah berapa banyak orang yang telah makan sup sirip hiu di Jakarta sih ? Berapa restoran yang menjual menu ini ? Untuk membuat sebuah aturan, kita juga perlu melihat dari tingkat kepentingannya dan payung hukum diatasnya. Kalau dari teman-teman disini bisa membantu kami untuk melengkapo data yang telah ada dan menyatakan bahwa memang populasi hiu di Indonesia sudah hampir punah, mari kita bersama-sama berjuang di legislatif,”papar salah satu perwakilan Pemprov DKI Jakarta.

Perwakilan WWF Indonesia menyatakan hal yang sebaliknya, yaitu jika membuat sebuah regulasi dasarnya dengan data dan jumlah, maka regulasi tersebut tidak akan pernah berhasil dibentuk.

“Kalau kita lihat masalah ini dari segi bisnis, pasti akan mengkhawatirkan dari penghasilannya. Yang lebih saya tekankan disini adalah mindset yang menganggap bahwa dengan memakan sup sirip ikan hiu adalah sebuah prestige, simbol kekayaam seseorang. Ini dulu yang harus diubah, mulai dari diri sendiri, hal yang kecil dan sederhana ini, baru kita bisa beralih ke hal-hal yang lebih besar.

William Wongso, pakar kuliner Indonesia yang juga turut menghadiri acara ini juga menambahkan poin mengenai pentingnya menjaga alam untuk generasi yang akan datang.

“Sebenarnya chef punya wewenang untuk menolak melakukan sesuatu, seperti yang tidak ingin memasak makanan berbahan hiu, dan owner juga tidak boleh memaksakannya,”jelas William diakhir acara Diskusi Terbuka Menghilangkan Hiu dari Menu.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *